Sabtu, 09 Agustus 2014

tausiyah singkat



Assalamu'alaikum...
“Jadilah seperti pohon (yang berbuah), orang-orang melemparinya dengan batu, lalu ia membalasnya dengan melemparkan buah-buahnya.”, demikian nasihat imam Hasan al-Banna di depan banyak jamaahnya.

Ya, kita adalah makhluk sosial, dan berinteraksi dengan manusia lain itu menjadi sebuah sunatullah untuk kita. Dengan berinteraksi itulah kita menjalani hidup kita. Mustahil bagi kita hidup seorang diri. Pasti kita membutuhkan orang lain. Dan caranya adalah tentu dengan berinteraksi tadi.

Dari interaksi, tentu akan ada gesekan-gesekan.
Gesekan-gesekan inilah yang harus kita sikapi dengan baik.
Ibarat pohon berbuah yang dilempari batu tadi, tentu diantara gesekan itu pun ada yang membuat hati kita luka.
Namun bagaimana kita menyikapinya?
Kita hidup di masyarakat,
Di lingkungan rumah, sekolah, kampus, masjid, dan banyak tempat lagi.
Permasalahannya sekarang, sejauh apa kontribusi kita kepada lingkungan kita? Tentu termasuk juga dalam hal bagaimana menyikapi masalah yang ada?

Lihatlah pohon tadi. apapun yang dia hadapi dia lalu tetap berusaha memberi manfaat kepada ummat. Meskipun ia diuji dengan lemparan batu orang-orang yang kemudian menyakitinya, tapi ia tetap membalas dengan kebaikan, ia melemparkan buahnya yang kemudian menjadi manfaat untuk orang-orang yang mengambilnya, bahkan untuk si pelempar batu yang tadi menyakitinya juga.

Bagaimana dengan kita?

Jika kita hayati sabda Nabi saw. bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, tidakkah kita menjadi termotivasi?

[Diriwayatkan dari Jabir berkata: ”Rasulullah saw. bersabda: Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)]

Jika banyak orang-orang besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, dan banyak lagi Ulama cerdas yang mampu mengubah dunia dengan manfaat yang ia berikan, maka bagaimana dengan kita? Bahkan untuk mengubah lingkungan radius beberapa meter di sekitar kita saja kita seringkali kesulitan dan mengeluh tak sanggup.

Tentunya butuh ilmu yang sesuai dengan Al-Qur'an dan as-sunnah untuk bisa menjadi insan yang bermanfaat dan mampu menyelesaikan masalah dengan memberikan manfaat. So, yuk kita terus belajar untuk siap menjadi pengubah dunia dengan terus raih ilmu yang ada, dan juga dengan terus istiqomah di jalan dakwah.
Semua manfaat yang kita persembahkan untuk ummat tentu harus diniatkan karena Allah, supaya jadi ibadah, dan semoga kita bisa menjadi sebaik-baiknya manusia yang mampu memberi manfaat, aamiin.


puisi ?



Kamu tak perlu berusaha menghindar lagi,
Karena aku merasa kau sudah pergi
Kamu tak perlu berusaha membenciku,
Karena aku sudah tersakiti oleh sikapmu
Dulu kamu yang selalu menghias hariku,
Tuhan kirimkan kamu agar warna dunia tidak hanya abu-abu
Kamu yang sudah membawaku berani bermimpi
Namun ketika mimpi itu ku dapat dan kau sendiri belum bisa mengejarnya,
Kau pergi
Aku memahamimu tapi kau tak mengerti bahwa aku paham
Selalu berdoa untukmu meski kau tak tahu
Aku peduli, namun kau tak mau peduli
Aku berbicara, kau tak mendengar, atau bahakan pura-pura tak mendengar
Aku menghibur tapi kau tersinggung,
Aku berlari, tapi kau berhenti
Aku diam
Ya diam. Karena aku tahu apa yang aku bicarakan selalu salah
Aku tak berani mengambil sikap
Ya tak berani. Karena aku tahu apa yang aku lakukan selalu tak berkenan di hatimu
Aku tak berani bertindak karena aku tahu apapun itu selalu salah di matamu
Suatu saat nanti kau akan mengerti, Nak.

cerita Lucu mengenaskan



SEPOTONG EPISODE MASA LALU

Selama kita hidup kita pasti pernah yang namanya ngalamin sesuatu yang memalukan . Pasti ada pengalaman yang memalukan dan memilukan bukan?. Bikin ngenes pokoknya. Disini gue mau cerita sedikit. Saat itu gue dengan tampang polos, masuk kuliah. Kayak anak ilang aja gitu. Nah ketika itu kakak tingkat gue ngajakin maen2 ke stand nya karena di situ baru diadaain expo kecil2an tentang kegiatan2 apa aja di prodi itu. Ya daripada gue suwung kaya bolan (bocah ilang) gue mutusin buat ngikut aja tu kakak tingkat. Sampai di situ nggak ada satu pun kakak tingkat yang kenal gue. Widih parah . padahal gue juga nggak kenal mereka.

Singkat cerita kakak tingkat yang duduk di samping gue bisisk-bisik dikuping gue. Dengan wajah pucat pasi kayak dikejer polisi.

“Dek, sholat yuk? Udah sholat belum?”

Ya gue karena ngerasa udah sholat tak jawab aja:

       “udah sholat ik Kak”

Muka kakak tingkat itu masih pucat. Gue pun takut, apa maksud dari perkataan menusuk itu. Apa gue kelihatan begitu nggak alimnya sampai2 di tanyain udah sholat apa belum.

       “oh, yawdah kalo gitu mau ke kamar mandi nggak? Ke kamar mandi yuk?”

Gue Cuma bicara dalam hati. Ni kakak tingkat aneh banget, maksa2 gue. Karena gue nggak lagi pengen pipis ya gue tolak mentah2 tu ajakan

       “nggak mbak. Kenapa emang?”

Hening

Dia jingkrak2 kayak anak kecil pengen naik odong-odong. Gue anaknya bingungan , ditambah hal semacam ini , tambah bingung gue.

Ternyata mbaknya nggak mau to the point kalau resleting celana gue belum gue naikin!

                Itu cerita mengenaskan gue saat jadi maru alias mahasiswa baru.  Sebelumnya juga sering ngalamin peristiwa2 mengenaskan lainnya. Saking seringnya sampai lupa cerita apa. Eh loe tau nggak?

Nggak tau? Ya udah sama. Gue juga nggak tau.

                Pernah waktu itu gue dikagetin ama kakak gue. Saking keseringan di kagetin , gue jadi kaget. Yaiyalah. Setiap gue mau masuk rumah di usilin ama kakak gue. Terbesit di benak gue buat balas dendam. Tapi gue saranin jangan sekali kali deh buat balas dendam. Apapun yang orang lain perbuat ke kamu balaslah dengan sesuatu hal yang baik. Siang itu terdengar langkah kaki menuju rumah gue. Siapalagi kalau bukan kakak gue? Gue pun buru2 mumpet balas dendam. Gue ndekem di balik tembok dalam rumah. Huaaaahaaahaaaa gue ketawa puas dalam hati sampai 2 tanduk gue muncul. Sebentar lagi gue kagetin tu anak. Setelah dia masuk gue muncul dengan membabi buta. “BADALAAAAA” dia kaget. eh Tapi gue lebih kaget. ternyata itu temen bokap gue. -____- alamak. Niatnya mau ngagetin kakak eh malah kaget sendiri saat tahu yang gue kagetin itu temen bokap.